lomba nulis tempoe doeloe

Perdamaian dan keadilan dalam realitas sehari-hari
Perdamaian bukanlah perayaan satu hari saja

            Apa yang kita pahami dan kita mengerti dari kata “damai atau perdamaian?”, benarkah kita hanya mendengar kata ini saat keadaan memburuk dan kehidupan membutuhkan perhatian atau kita hanya mendengarnya hanya pada hari peringatannya saja yakni tanggal 21 september yang di jadikan sebagai hari perdamaian Internasional? Perdamaian bukanlah sebatas perayaan yang di selenggarakan dalam satu hari atau dalam rentang waktu tertentu pada saat tanggal itu saja, tapi perdamaian memiliki arti yang luas dan seharusnya menjadi permenungan yang terus menerus dalam setiap waktu dan dalam kehidupan sehari-hari kita. Sehingga kita tidak melulu berfokus pada perayaannya saja, tapi mulai bereaksi dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa memulainya dari diri kita sendiri, keluarga kita, dan kemudian baru mencoba masuk pada lingkup yang lebih luas lagi seperti kampus atau terhadap masyarakat di sekeliling kita. Karena ketika kita menyerukan kata perdamaian, secara tak langsung memberi kita suatu tanggung jawab yang besar untuk mempraktekkannya dan bukan sebatas merayakannya dan menikmati perdamaian tersebut hanya di hari dan tanggal yang sudah di tetapkan sebagai hari perdamaian.
            Menciptakan perdamaian sehari-hari dalam kehidupan kita sendiri, dalam hubungan kita sendiri dan dalam komunitas kita sendiri adalah satu-satunya cara untuk membangun perdamaian dan yang nantinya juga akan melahirkan keadilan yang bisa kita realisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena kalau kita mau mencoba membuka mata kita lebar-lebar dan melihat realitas yang ada di sekeliling kita, betapa banyaknya kondisi atau lapisan masyarakat yang tidak lagi mengerti apa itu arti perdamaian dan keadilan, mereka seakan menganggap dua kata  tersebut adalah hal yang tabu yang hanya di kumandangkan oleh orang-orang yang hidupnya nyaman-nyaman saja. Tempat tinggal ada tanpa harus takut di gusur sana-sini, mau makan juga lebih dari cukup, kehidupan mereka yang menyeru-nyerukan perdamaian dan keadilan itu hanyalah orang-orang yang bisa menikmati hidup. Bagaimana dengan orang-orang miskin yang untuk menyandarkan kepalanya saja untuk tidur dia tidak punya karena di usir oleh petugas keamanan dan ketertiban. Dan lambat laun, yang terjadi adalah kata perdamaian dan keadilan itu sangat jauh dari kaum-kaum yang lemah dan tertindas. Di antara sekelompok orang berdasi dan sisiran yang rapi. Perdamaian, bagi mereka yang tidak bisa merasakannya akan berhenti mempercayai pengertian secara harafiah dari kata perdamaian tersebut. Bicara tentang keadilan apalagi, tidak ada yang adil yang bisa kita temukan dibelahan bumi ini, semua seolah menjadi satu hal yang memfokuskan pada kepentingan diri sendiri tanpa perduli dengan orang yang membutuhkan keadilan itu sendiri. Lebih spesifik lagi kita bisa menelusuri dari sekian banyak lapisan masyarakat seluruh Indonesia bahkan Dunia, lebih banyak orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak mengenal lagi apa itu perdamaian dan keadilan! Apa tujuannya dan apa faktanya dan apa pengaruhnya bagi mereka, toh pada ujungnya mereka tetap saja kembali pada keadaan yang jauh dari perdamaian dan keadilan itu sendiri. Jadi bagaimana kita bisa menjelaskan kepada mereka sesuatu yang seharusnya mereka bisa rasakan dalam kehidupan mereka sehari-hari dan mereka nikmati tapi ternyata sudah di gerogoti dari lapisan atas yang tidak mau ambil pusing dengan kekurangan mereka dan apa yang menjadi kebutuhan mereka sebagai orang-orang yang merindukan perdamaian dan keadilan itu hadir di tengah-tangah kehidupan yang mereka miliki.
Meskipun demikian tetap saja ada sekelompok orang yang melihat perdamaian itu dan menjelaskannya dengan kata “setiap hari perdamaian adalah realitas rohani”. Untuk menciptakan perdamaian dalam kehidupan satu tuntutan memperdalam pemahaman tentang diri sendiri, peran satu di masyarakat dan peran kosmis.  Dan inilah yang mau di soroti dan ditekankan oleh penulis dalam tulisan ini, dengan melihat secara lebih spesifik dari permasalahan dalam lingkup negara dan dalam kalangan masyarakat umum. Dengan mengungkapkan beberapa contah riil yang sedang terjadi dan sedang marak terdengar di setiap telinga kita.
A.    Indonesia dan Perdamaian dengan Negara lain
Negara kita Indonesia di kenal sebagai negara di ASEAN yang biasanya menjadi negara yang mengetengahi jika ada permasalahan atau konflik antara negara satu dengan negara lain, Indonesia lebih sering hadir sebagai mediator untuk menyelesaikan konflik antara negara yang sedang berselisih terutama negara di Asia Tenggara khususnya. Sebagai Negara yang berkembang Indonesia juga memiliki hubungan yang baik dengan negara-negara lainnya (perlu juga kita ingat kembali ketika perang dunia juga Indonesia masuk dalam kelompok yang “non blok”).
Namun belakangan ini fenomena yang kita lihat dan yang membuat panas telinga dan menyulut emosi kita, permasalahan itu adalah hubungan Indonesia-Malaysia yang semakin lama semakin memanas meski belum sampai kepada kesepakatan yang bisa di terima masing-masing negara. Kerusuhan mulai terjadi dimana-mana, seruan dan makian terhadap negara Malaysia semakin keras terdengar di telinga kita dan selalu tampil hampir di setiap media massa, dan berbagai media lainnya yang sepertinya malah semakin membangkitkan emosi sekelompok besar masyarakat Indonesia. Memang kalau kita perhatikan dari catatan hubungan ke dua negara ini awalnya memang baik, apalagi negara kita serumpun dengan negara Malaysia. Tapi belakangan ini memang mulai kelihatan cikal bakal perseteruan diantara 2 negara ini, mulai dari Malaysia yang mengklaim bahwa tarian Reog adalah budaya milik mereka, dan banyak budaya milik Indonesia yang hampir-hampir menjadi milik Malaysia. Kemudian kasus yang lebih besar lagi dan yang menjadi penyulut kemarahan bangsa Indonesia adalah ketika Malaysia malah menangkap 3 orang yang bekerja dalam departemen kelautan dan perikanan Indonesia.
Dari permasahan di atas kita bisa lihat bagaimana perdamaian yang telah ada diantara kedua negara itu hilang begitu saja karena konflik yang terjadi, karena Indonesia merasa kedaulatan negaranya di injak-injak oleh Malaysia. Belum lagi ketika malaysia menangkap sekitar 6800 TKI dan memvonis mati 177 orang Indonesia, dan pertemuan antara Indonesia dan malaysia sampai tanggal 31 Agustus masih belum menghasilkan kesepakatan bagi kedua negara tersebut. Lalu, bagaimana kita sebagai orang Indonesia melihat konflik ini? Apakah ada diantara kita secara khusus mahasiswa yang berpikir secara positif dan melihat permasalahan ini harus diselesaikan dengan jalan yang baik-baik saja? Menurut penulis kondisi yang terjadi di dalam Indonesia sendiri dan hampir di semua kalangan begitu emosi dan jadi membenci Malaysia, mereka membakar negara malaysia dan mencemooh perlakuan Malaysia. Bahkan mereka jadi ingat apa itu “nasionalisme” mereka yang berdemonstrasi dan menghujat Malaysia mengaku kalau tindakan mereka adalah wujud dari kecintaan mereka terhadap negara mereka Indonesia, dan memang bisa kita lihat semua lapisan masyarakat Indonesia meng “iya”kan hal tersebut, baik itu artis, rakyat biasa, di kalangan pejabat dan lapisan yang lainnya. Mereka berteriak “Malaysia telah melecehkan kedaulatan negara kita Indonesia, Malaysia menginjak-injak kehormatan negara kita Indonesia!!!”. Sebagai mahasiswa yang juga sedang belajar memahami perdamaian dan juga konflik, lebih setuju dengan pidato Presiden SBY yang di sampaikannya pada tanggal 31 Agustus siang. Beliau berkata dengan jelas serta menganjurkan agar rakyat Indonesia berpikir secara rasional dan bukan emosional serta menganjurkan untuk diplomasi. Penulis menambahkan, apakah dengan dilecehkan, itu berarti bahwa kedaulatan kita terkikis begitu saja? Apakah dengan begitu membuat kita sebagai bangsa Indonesia kehilangan kehormatan kita? Penulis melihat bahwa tindakan dan ke anarkisan yang terjadi di tengah-tengah konflik antara Malaysia dan Indonesia ini di pengaruhi oleh pihak-pihak yang tidak mengerti permasalahan yang terjadi. Seperti yang telah penulis jelaskan tentang pidato Presiden RI, penulis melihat bahwa memang untuk tetap menjaga Perdamaian itu dan menghindari “perang” diantara kedua negara yang berselisih adalah berpikir secara Rasional dan bukan secara Emosional. Perdamaian itu memang tidak jauh-jauh dari yang namanya konflik, tapi perdamaian bisa kita dapatkan dan tercipta ketika kita bisa mengatasi konflik tersebut. Kalau kita coba pikirkan bersama, andaikanlah kita berperang dengan malaysia, apa kita bisa pastikan menang? Persenjataan dan teknologi mereka jauh diatas kita, apa Indonesia bisa menang perang lagi hanya dengan ke nekatan dan bambu runcing saja? Kalaupun kita yang memenangkan peperangan, apa yang kita dapat? Untuk membuktikan bahwa negara kita lebih kuat dari negara lain? Apa itu yang disebut dengan patriotisme dan kedaulatan? Membuktikan kedaulatan dan jiwa nasionalisme dengan perseteruan atau peperangan? Sebagai mahasiswa saya mengajak pembaca untuk lebih membuka lagi ruang lingkup dan cara pandang yang lebih positif dan jangan terlalu gegabah dan mengambil keputusan dengan memakai alasan yang kurang relevan dengan masalah yang di hadapi, seperti halnya tentang konflik Indonesia vs Malaysia ini.
Perdamaian bukanlah hal yang mudah untuk dicapai apalagi dalam hubungan antar negara seperti ini, keburukan yang terjadi adalah peperangan dan hubungan Bilateral akan terputus dan kita akan memiliki musuh. Perdamaian tidak akan pernah kita dapatkan jika kita berpikir dan bertindak dengan emosi kita secara sepihak, alangkah baiknya kita berpikir dengan kepala dingin dan melihat jalan keluar yang berujung dengan perdamaian itu sendiri. Mencoba untuk mentransformasi konflik itu sendiri dan menumbuhkan perdamaian.

B.     Perdamaian di Indonesia
-          Masyarakat dan Pemerintah
Selanjutnya penulis akan menelusuri Perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan yang kita temukan dalam pemerintahan dan segala isu yang kita bisa lihat di Indonesia dan bagaimana kata perdamaian itu di terjemahkan dan di pahami oleh masyarakat Indonesia itu sendiri.
Kita bisa melihat kembali realita yang bisa kita lihat akhir-akhir ini. Masyarakat mulai protes dan berdemonstrasi disana-sini karena kebutuhan pangan dan pendukung lainnya semakin sulit dijangkau. Mulai dari harga minyak tanah dan BBM yang melambung tinggi, belum lagi kebutuhan makanan yang lain yang melonjak. Kita semua tahu bahwa pemerintah mencoba untuk mengambil dan menyerukan kebijakan-kebijakan yang sepertinya akan membantu menyelesaikan konflik yang diciptakan rakyat karena kebutuhan yang serba mahal tersebut. Kebijakan itu seperti membuat tabung gas 3kg yang bisa dijangkau oleh rakyat kelas menengah kebawah dan memberikan subsidi bagi mereka yang benar-benar membutuhkan, masyarakat merasa terbantu dengan kebijakan ini. Memang rakyat melihat ini sebagai suatu hal yang baik buat kehidupan mereka dan melihat kepedulian dari pemerintah terhadap kebutuhan mereka sebagai rakyatnya. Kita tidak tahu apakah ini sebagai tindakan agar rakyat tidak melakukan aksi yang mengganggu stabilitas negara dan membuat kerusuhan, seperti demonstrasi dan merusak fasilitas negara karena mereka merasa tidak diperhatikan. Tapi kenyataan yang terjadi adalah tabung 3kg itu menjadi”bom waktu” yang rakyat tidak tahu sama sekali, banyaknya kasus yang memakan korban karena meledaknya tabung gas tersebut malah semakin membuat rakyat takut untuk menggunakan tabung 3kg yang pada tujuan awalnya adalah untuk meringankan biaya mereka untuk melanjutkan kehidupan mereka dan demi kesejahteraan mereka, dan yang menjadi korban adalah rakyat kecil itu sendiri dan pemerintah tetap berada pada posisi yang tidak bisa kita salahkan sedemikian rupa dan pasti sulit menemukan damai di dalam diri mereka yang jauh dari keadilan yang mereka harapkan dan inginkan ada bagi mereka dan kehidupan yang serba sulit.
Dan yang semakin membuat kita kecewa sebagai masyarakat dan membuat banyak kalangan geregetan adalah seputar renovasi gedung DPR yang menghabiskan dana sekitar 1.5 triliun rupiah dan di dalamnya termasuk dana subsidi dari rakyat sendiri[1]. Bangunan ini sangat kontroversial, bagaimana tidak fasilitas dan kemewahan lainnya yang tidak begitu dibutuhkan sabagai wakil rakyat juga dibangun di sini. Seperti ruang fitnes, kolam renang dan juga spa akan di bangun di gedung ini. Sementara masyarakat sendiri terluntang-lantung mencari biaya untuk mempertahankan hidupnya, tapi mereka yang kita menyebutnya sebagai wakil rakyat malah tidak memahami dan tidak mau peduli terhadap rakyat yang membutuhkan kebijakan-kebijakan dari mereka sebagai wakil rakyat agar mereka bisa hidup sejahtera. Padahal kinerja yang ditunjukkan oleh para wakil rakyat ini sangat mengecewakan, kita bisa lihat dalam rapat ada yang tidur, ada perkelahian dan ketegangan-ketegangan yang lainnya yang sebenarnya tidak lebih penting di banding dengan masyarakat yang terlantar di balik perseteruan dan tidur siang wakil rakyat di gedung kesayangan mereka itu. Semakin kompleks jika kita berbicara dan bercerita tentang “keadilan” di kalangan masyarakat dewasa ini, kita akan menemui kesulitan untuk membuat mereka mengerti tentang keadilan sementara kehidupan yang mereka jalani sangat jauh dari keadilan itu sendiri dan secara tidak langsung juga kedamaian mereka sebagai rakyat biasa sudah terenggut oleh mereka yang mengaku sebagai wakil rakyat. Lambat laun atau bahkan kita sedang menjalani keterpurukan bangsa dan negara kita saat ini, memikirkan kepentingan sendiri dan menutup daun telinga mereka untuk mendengar keluhan dari setiap lapisan masyarakat yang membutuhkan peran mereka. Kalau begini keadaannya sebagai negara yang mengaku bahwa Pancasila adalah Ideologi negara ini sudah dipertanyakan, dimana “keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia” bagaimana kita mau membangkitkan rasa nasionalisme di tengah negara yang tidak bisa memberikan keadilan bagi rakyatnya sendiri dan mematikan benih-benih kedamaian bagi rakyatnya sendiri.
-          Pendidikan, Perdamaian dan Pemerintah
Satu lagi fenomena yang selalu terdengar dan bisa jadi hafalan bagi kita sebagai masyarakat awam, yakni konflik-konflik yang terjadi dan kerusuhan yang lainnya yang tercipta yaitu ketika pemerintah kita angkat bicara tentang pendidikan dan kebijakan-kebijakan yang dibuat seolah berbicara tentang janji yang mau di tepati untuk di ingkari. Bantuan-bantuan operasional dan berbagai jenis bantuan lainnya yang dikumandangkan pemrintah seakan sebagai langkah kecil untuk pemerintah bisa menyelesaikan konflik yang ada dan yang tercipta hanyalah perdamaian. Tapi kenyataan yang kita lihat apa? Bantuan-bantuan yang menggiurkan itu ternyata di gerogoti oleh “pengerat” yang punya kekuasaan untuk potong ini-itu dengan kedok untuk kesejahteraan rakyat padahal yang kita dapati adalah biaya pendidikan itu sendiri sangat minim apalagi melihat banyaknya generas muda yang membutuhkan biaya untuk menuntut ilmu. Bukankah ini jadi fokus dan perhatian negara kita ini seperti visi bangsa Indonesia dalam butir undang-undang dasar tahun 1945 yakni yang berisikan kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai seorang mahasiswa, penulis juga melihat ini sebagai hal yang sangat beresiko bagi pendidikan di Indonesia dimana kreatifitas dan semangat belajar generasi muda Indonesia tertahan hanya karena dana pendidikan yang sudah di keruk oleh mereka yang memiliki kekuasaan akan dana tersebut. Dengan kondisi yang seperti ini tidak heran jika mahasiswa menjadi sasaran yang sangat lunak dan dimanfaatkan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai sarana untuk menyerang pemerintahan demi kepentingan LSM itu sendiri dan mahasiswa hanya sebagai kambing hitam yang tidak tahu apa-apa dan mudah di butakan oleh hasutan kelompok-kelompok yang tidak bertanggungjawab tersebut. Menimbulkan kerusuhan disana-sini dan mengikis perdamaian yang ada diantara pemerintah dan generasi muda yang sedang belajar dan berkembang ini. Selain itu ada lagi dana BOS (bantuan operasional sekolah) yang di berikan oleh pemerintah yang bertujuan untuk membantu anak-anak yang kurang mampu juga bisa ikut mengecap ilmu pengetahuan. Tapi yang kita dapati? Biaya untuk mereka malah sudah kena “potong atas” dari pejabat-pejabat yang memikirkan kantong mereka dan menganggap ini sebagai sebuah kesempatan untuk memenuhi pundi-pundi kekayaan mereka. Dan yang menjadi korban adalah rakyat yang kurang mampu juga, karena memiliki semangat yang tinggi untuk belajar tanpa adanya biaya operasional yang membantu mereka maka sia-sialah semangat mereka dan lambat laun semangat itu akan redup dan akhirnya padam, padahal mereka juga memiliki peran yang besar bagi negara ini ke depannya nanti dan menjadi generasi penerus bagi Indonesia. Namun kalau melihat keadaan yang seperti ini, semuanya hanya tinggal pembicaraan saja di media dan dialog-dialog di semua media yang ada tapi tidak akan pernah menemukan jalan keluar yang membantu mereka menghadapi  masalah perekonomian dan harapan mereka untuk bisa hidup sejahtera di Indonesia.
Siapa yang salah? Siapa yang merenggut perdamaian ini? apa yang salah mahasiswa sendiri atau pemerintah? Atau malah ini sudah menjadi rantai yang saling berkaitan dan sulit untuk memastikan siapa yang salah atau yang benar. Dimana kedamaian itu bagi generasi muda? Atau mereka malah mulai tidak peduli lagi dengan kata ini? karena sudah terlalu sia-sia jika berdialog untuk mendapatkan kedamaian dan keadilan bagi mereka sehingga ketika menemui jalan buntu, mereka lebih memilih berdemonstrasi dan memaksakan kehendak mereka secara sepihak. Atau banyaknya anak-anak yang turun kejalanan, yang seharusnya mereka duduk di bangku sekolah tapi terpaksa turun ke jalanan karena tidak mempunyai biaya yang cukup, makan saja sudah untung bagi mereka dan jika berangan-angan untuk bersekolah itu menjadi khayalan saja dalam benak mereka.
C.    Penutup
Jadi apa sebenarnya “perdamaian” itu? Apakah kita lebih sering menterjemahkannya sebagai sebuah rasa saja atau sebagai kondisi yang telah menjadi suatu kerinduan yang begitu sulit untuk kita rengkuh dan kita rasakan? Jangan-jangan kita sudah tidak bisa lagi menemukan pengertian dari kata ini? yang kita mengerti dan pahami secara teori hanyalah kata nya saja dan bukan keadaan dari kata perdamaian itu sendiri?
Pertanyaan besar yang terbersit saat mulai merumuskan dan mencari data untuk dituliskan dalam essai ini adalah, keadaan yang seperti apa sebenarnya perdamaian itu? Dan apa hubungannya perdamaian dan keadilan itu sendiri? Sebagai mahasiswa tentu penulis akan mengemukakan pendapatnya sebagai seorang mahasiswa yang sedang belajar dan melihat realitas yang menghadirkan pemahaman bagi diri penulis sendiri.
Setelah melihat penjelasan dari beberapa contoh  yang telah di paparkan di atas, penulis akan mencoba mendeskripsikan pertanyaan “keadaan yang seperti apa sebenarnya perdamaian itu?”. Apakah perdamaian itu adalah kita berkata, aku damai-damai aja kok dengan dia, atau asalkan dia gak buat aku jengkel ya aku akan biasa aja dengan dia. Apakah benar keadaan yang seperti ini yang disebut perdamaian itu? Tidak ada konflik dan tidak ada gesekan kepentingan? Saya mengutip perkataan dosen saya yang mengajar transformasi konflik. Beliau berkata tentang definisi positi dan definisi negatif dari arti perdamaian itu sendiri, dan keadaan yang hanya berbicara tentang “perasaan” pribadi ini yang mengatakan “aku merasa damai-damai saja kok” adalah definisi negatif dari perdamaian itu. Setelah mendengar penjelasan beliau tentang hal ini, penulis mendapat ide untuk menjelaskan bagaimana keadaan yang bisa kita sebut sebagai sebuah perdamaian. Kata kuncinya adalah “harmonisasi”, kita akan masuk pada perdamaian itu sendiri adalah ketika kita memiliki relasi yang baik dan komunikasi yang baik diantara kedua belah pihak. Jadi bukan ketika aku dan dia tidak ada apa-apa dan tidak ada kepentingan bisa di sebut sebagai damai, tapi kembali penulis menggaris bawahi dan mewarnai kata-kata harmonisasi. Jika kita bisa menciptakan harmonisasi itu, maka bukanlah hal yang sulit bagi kita untuk masuk dan menciptakan perdamaian itu dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kemudian bagian yang kedua, apa hubungan antara perdamaian dan keadilan itu sendiri? Menurut hemat saya dan bukan hal yang muluk-muluk dan rumit untuk di jelaskan. Ketika kita berbicara tentang keadilan dan faktor-faktor yang merealisasikan keadilan itu sendiri maka keadilan itu sendiri bisa menjadi sebuah dasar untuk menciptakan perdamaian, tidak ada berat sebelah dan semua kepentingan orang di anggap penting. Tidak ada pembagian orang berjas dan orang yang tidak memakai sendal, tapi keadilan menyentuh semua aspek dan semua lingkup yang ada di sekitarnya.
Jadi ketika kita mengerti dengan semua keadaan yang telah penulis coba paparkan di atas, setidaknya membantu pembaca untuk melihat secara luas dan berupaya sebisa mungkin untuk menghadirkan perdamaian dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari memegang komitmen bahwa damai dan keadilan adalah gaya hidup sehari-hari, sekali lagi bahwa hari perdamaian bukan berarti hanya untuk satu hari itu saja tapi perdamaian seyogyanya kita jalani menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Karena Tuhan kita Yesus juga berbicara tentang Syalom, yang di dalamnya mencakup perdamaian dan keadilan tersebut. Marilah kita belajar melihat realitas dan menciptakan perdamaian dan keadilan di tengah-tengah kehidupan kita.
Salam Damai…



[1] Berita dari media televisi tanggal 31 agustus 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

it's me?

me, myself, and Rim

thank you